Monday, July 1, 2013

Penjual Bukan Pembohong, Menjual Tidak Boleh Berbohong

penjual bukan pembohong

Salam Bisnis!

Ketika menulis judul kiriman ini, yaitu “Penjual Bukan Pembohong, Menjual Tidak Boleh Berbohong” saya tidak sedang ingin menyampaikan ajaran agama. Bukan, bukan itu. Kita mungkin menganggap bahwa mengajarkan kejujuran adalah tugas tokoh agama. Boleh saja bersikap seperti itu. Akan tetapi, tanpa memperhatikan latar belakang agamanya, setiap pelaku bisnis tetap diminta untuk jujur. Iya kan?

Seorang penjual saya anggap juga pelaku bisnis. Sebuah bisnis tidak dapat dikatakan bisnis apabila tidak ada penjualan. Saya kira, Anda semua sepakat soal hal itu. Kalau tidak sepakat, mari kita selesaikan dengan minum kopi bersama, hehehe…

Nah, ceritanya begini.

Suatu hari, saya berdiskusi dengan seorang penjual baru di perusahaan. Kami berdiskusi mengenai cara penjual itu menawarkan dagangan kepada prospek. Intinya, penjual tersebut melakukan segala cara agar tujuan dia melakukan penjualan dapat tercapai, atau dengan kata lain agar prospek melakukan pembelian. Closed deal kalau istilah kerennya.

Penjual itu memiliki pemahaman bahwa dalam marketing, apa pun dapat dilakukan, termasuk berbohong, yang penting adalah terjadi penjualan produk atau jasa. Nah, pemahaman itu yang tidak tepat. Selama saya belajar Manajemen Pemasaran semasa kuliah dulu, belum pernah saya mendapatkan pelajaran bahwa seorang pemasar boleh berbohong. Bahkan, yang saya dapatkan ajarannya adalah bahwa pemasaran itu tidak boleh melakukan pembohongan terhadap pelanggan.

Nah, lalu dari mana si penjual itu mendapatkan pemahaman yang seperti itu? Entahlah. Itu tidak penting untuk kita bahas. Yang paling penting adalah kita semua harus memahami bahwa dalam pemasaran tidak boleh ada pembohongan kepada pelanggan. Pemasar bukan pembohong, penjual juga bukan pembohong.

Katakan Yang Perlu, Jangan Katakan Yang Tidak Perlu

“Wah, Pak, kalau tidak boleh bohong, saya akan kesulitan menjual dong!”

Memang, kadang-kadang kita beranggapan bahwa kalau kita melakukan penjualan dengan cara-cara yang jujur, kita bakalan sulit menjual dagangan kita. Padahal, yang kita perlukan hanyalah jangan berbohong. Kata kuncinya adalah jangan berbohong. Oleh karena itu, dalam melakukan penjualan, saya menyarankan untuk mengatakan yang perlu-perlu saja. Kelebihan dangangan kita perlu untuk kita sampaikan semua tetapi kita tidak perlu melebih-lebihkan agar tidak terjadi over promise. Lalu, mengenai kelemahan dagangan kita, ya apa itu perlu untuk disampaikan? Saya sih memandang apabila tidak ditanyakan ya itu tidak perlu disampaikan.

Tidak menyampaikan itu bukan berbohong. Masa kita tidak mengatakan apa-apa dianggap berbohong. Ya nggak?

Nah, mudah-mudahan para penjual dan pemasar semua dapat memahami bahwa penjual dan pemasar tidak boleh berbohong karena penjual dan pemasar itu bukan pembohong.